Rabu, 27 Desember 2017

waspadai produsen memoroti pembeli

  Berlaku royal dan boros merupakan hal yang diinginkan setiap produsen dari konsumennya.Tentu saja. Bukankah dengan begitu dagangan mereka akan laris manis? Makanya mereka tak pernah henti melancarkan rayuan dan bujukan halus lewat strategi pemasaran yang rapi dan terencana.

  Jangan dikira bujukan itu cuma dilakukan lewat iklan. Sejak lepas dari pabrik, setiap produk sebenarnya sudah menggendong iming-iming yang diharapkan dapat membetot ketertarikan calon konsuken. Kalau tak waspada, konsumen bisa terjerat.

  Nah, bagaimana strategi mereka untuk menjebak konsumen? Mari kita endus bersama agar isi dompet kita tidak terkuras karenanya.

Strategi 1: Pembaruan produk

Produsen kerap menggembor-gemborkan produk lama yang dikesankan sebagai produk baru. Caranya? Misalnya,dengan menyisipkan zat tertentu yang lebih ampuh. Taktik ini memberi pesan seakan-akan produk keluaran baru lebih dahsyat.

Cara ini ditempuh produsen untuk mendobrak stagnasi pasar, yakni jumlah penjualan yang sudah sulit didongkrak lagi dan mulai menurun. Beberapa contoh produk yg dipasarkan dengan cara itu diantaranya deterjen bubuk atau shampo yg diperkaya zat baru. seringpula zat itu desebut dengan istilah asing yang sulit dimengerti agar terkesan canggih dan keren. Seperti proteamix, color guard, fruitamin, atau deterjen kosentrat.

Bagaimana sikap kritis kita? Pertimbangkan baik-baik, benarkah produk "baru" itu memang memberi efek lebih baik dibandingkan dengan produk sebelumnya atau dengan produk sejenis lainnya.

Strategi 2: Menggarap pemakai baru

Rayuan kedua ini ditempuh produsen dengan melempar produknya pada golongan konsumen baru. Misalnya, produk yang semula dijual untuk semua golongan, kemudian dikhususkan untuk satu golongan. Lalu dalam dibangkitkan citra seakan-akan produk yang dipakai bersama itu enggak OK. Alia, pesannya, setiap generasi memiliki produk sendiri.

Contohnya pembedaan sabun wajah khusus remaja pria dengan milik teman ceweknya, hand and body lotion untuk remaja wanita yang berbeda dengan milik ibu.
Maka, jika shampo, lotion, atau sabun wajah yang selama ini bisa dipakai bersama dan tidak menimbulkan masalah, masih haruskah menyiapkannya sendiri-sendiri?

Strategi 3: Meningkatkan jumlah pemakaian

Yang tak kurang gencar dilakukan adalah mendorong konsumen untuk menggunakan produk secara boros agar cepat habis, sehingga ia akan segera membeli lagi. Jika konsumen tak jeli, produsen akan mengeruk untung banyak, karena produknya laku keras. Agaknya, banyak konsumen yang tidak menyadari taktik ini sebagai bujukan belaka.

Contohnya, dalam iklan pemakaian pasta gigi, seaka-akan digambarkan kita memang perlu pelototan yang begitu banyak. Yang lain adalan pesan dalam shampo yang menyebut, 'Aman dipakai setiap hari", atau juga pesan dalam label "keramas dan bilas dua kali". Masih ingat dengan iklan body cologne di televisi yang pemakaiannya ditumpahkan ke tubuh seperti sedang mandi?

Jadi, jika dengan pelototan pasta gigi tipis saja Anda sudah merasa nyaman, haruskah menggunakan berlebihan? Benarkah Anda harus keramas setiap hari dan di shampo dua kali pula, terutama bila Anda bukan orang lapangan dan berambut pendek? Begitu pula dengan pemakaian body cologne, perlukah ditumpahkan ke badan sedemikian banyaknya?

Strategi 4: Menambah lini produk baru

Strategi ini dipakai produsen merek terkenal untuk memasarkan jeis produk berbeda. Harapannya, konsumen yang selama ini mempercayai merek mereka akan percaya pula pada produk baru keluaran mereka.

Contoh, sebuah pasar swalayan terkenal menjual barang-barang dengan merek toko mereka. Produsen sirup dengan merek saus cabai, saus tomat, mi instan dll, dengan merek sama. Contoh lain, sebuah stasiun televisi swasta terkenal menjual VCD lagu karaoke.

Sebaiknya, Anda tidak mudah silau oleh nama besar merek produk pendahulunya. Kalkulasi lagi, benarkah mutu produk yang mereka comot? Benarkah Anda memang memerlukannya? Jangan mudah dikelabuhi dengan taktik yang menjadikan Anda seolah-olah bagian dari mereka, sehingga Anda terbius untuk membeli apa pun yang mereka jual.

Strategi 5: Mendorong pemakaian terbatas Selain menggarap pangsa pasar potensial, tak sedikit produsen yang mengorek-ngorek konsumen yang bukan sasarannya, sekalipun dalam jumlah terbatas. Taktik ini dijalankan atas satu prinsip, " sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit". Tujuannya, untuk menambah peningkatan penjualan dari pangsa pasar utama mereka.

Contoh, produk kosmetika yang selama ini identik dengan wanita- diasarkan pula untuk laki-laki, seperti lotion pembersih, krim anti penuaan, atau krim tabir surya. Salah satu merek minuman bersoda (sofdrink) dengan agresif menembus pangsa anak-anak, padahal selama ini pangsa pasar mereka adalah orang dewasa.

Jika Anda laki-laki, pikirkan lagi, benarkah Anda memang butuh sarana pembersih/perawatan wajah yang begitu rumit? Begitu pula jika Anda wanita, perlukah suami atau anak-anak Anda menggunakannya? Perlukah memberikan minuman ringan pada anak-anak, jika air putih yang ebih sehat atau air sirup sudah bisa memuaskan mereka?

Strategi 6: Mengikuti perubahan alami ukuran pasar potensial

Taktik ini dipilih produsen karena adanya pembekakan konsumen potensial, seperti pasangan muda yang sibuk dan tak punya banyak waktu. Peluang ini dimanfaatkan produsen dengan meniupkan isu melalui iklan seolah-olah kita butuh produk yang memberikan kepraktisan dan kecepatan.

Contohnya adalah tersedianya bumbu instan, mesin pemanas, dan pendingin air. Pertimbangkan lagi, benarkah Anda tak punya waktu sehingga harus membeli bumbu instan atau karena sedang tren saja? Benar pulakah setiap hari Anda sering memerlukan air panas atau dingin?

Strategi 7: Menawarkan penampilan baru

Produsen melakukan sesuatu untuk menutup celah bagi pemasaran produk serupa, sehingga konsumen membeli produk mereka. Taktik ini ditempuh dengan membuat kemasan baru, baik bentuk, warna, maupun desain visualnya. Anda pula yang menawarkan harga lebih rendah dengan kemasan baru yang terkesan sama besar dengan sebelumnya, meski sesungguhnya volumenya jauh berkurang.

Taktik ini banyak dilakukan oleh produsen bahan pembersih tubuh atau pembersih rumah tangga, seperti shampo, sabun cair, pelembut atau pewangi pakaian.

Ingatkan diri Anda agar kembali pada prinsip dasar "memberi barang karena manfaatnya". Dengan demikian Anda tidak akan mudah terbujuk oleh penampilan kemasannya.

Strategi 8: Merangsang pembeli dengan hadiah

Cara produsen membujuk konsumen dengan taktik begini mestinya sudah sangat dikenal. Diantaranya dengan menyisipkan hadian berupa produk tambahan pada produk yang diibeli, iming-iming berupa hadiah yang akan diundi kemudian, atau bonus produk yang sama untuk pembelian dengan jumlah tertentu.

Contoh penerapannya adalah pembersih lantai dengan sisipan hadiah shampo botol mini. Bedak berhadiah kalung atau cincin berlian, pasta gigi berhadiah rumah, setelah diundi nanti. Ada juga taktik "beli 2 dapat 3" yang banyak diterapkan pada produk perawatan rumah tangga, seperti sabun mandi. Pertimbangkan apakah Anda membeli semata-mata karena hadiahnya atau sepenuhnya karena mutu produknya yang sudah anda percaya. Tak soal, apakah produk  itu berhadiah atau tidak. Namun sulitnya , cara ini paling membius kita, karena hadiahnya nyata ada. karena itu, banyak orang mudah terbujuk.

trimakasih .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar