Penulis menceritakan tentang pengalaman seseorang yang medapat tugas di puskesmas Bualemo, kec. Pagimana, Kab. Banggai, Sulawesi Tengah. Ketika beliau memberikan penyuluhan tentang air bersih dan sehat disalah satu Unit Pemukiman Transmigrasi, yang sebagian penduduknya berasal dari Nusa Tenggara Barat, beliau dikejutkan istilah air hidup dan air mati
waktu itu kepada mereka dianjurkan untuk membiasakan diri minum air yang sudah dimasak hingga mendidih. Penyuluhan tentang air minum memang perlu terus diberikan karena mereka masih lebih menyukai air entah, meskipun penyuluhan sudah berulang kali diberikan. Kebiasaan itu telah menelan korban ketika antara 30 maret-8 april 2000, setelah diguyur hujan lebat, di Dusun Bomban terjadi wabah diare. Dari 15 orang penderita, empat orang diantaranya meningal lantaran terlambat ditolong.
Namun salah seorang diantara peserta penyuluhan menyampaikan keberatan. "Kebiasaan kami dari dulu suma minum air hidup, Pak Dokter. kalau minum air mati, rasana tidak enak dan tidak segar. Kami semua disini sudah biasa minum air hidup."
Mula-mula beliau agak bingung dengan istilah air hidup dan air mati. Namun, namun beberapa saat kemudian beliau memahami maksudnya. Yang dimaksud air hidup adalah air yang tidak dimasak terlebih dahulu, yakni yang baru diambil dari sumur, sungai, atau mata air. Sedangkan air mati, air yang sudah dimasak Dari aspek kesehatan, istilah ini ada benarnya. Air yang belum dimasak, kuman-kuman di dalamnya (bila ada) masih hidup. Sebaliknya, yang sudah dimasak dengan baik dan benar, kumannya mati. Muncullah istilah air hidup dan air mati.
trimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar